Kewanitaan

Cara Mengatasi Gejala Menopause Dini Cara Mengatasi Gejala Menopause Dini

Cara Mengatasi Gejala Menopause Dini – Berikut ini merupakan artikel yang membahas tentang cara mengatasi gerjala menopause dini yang sudah dirangkum dari sumber terpercaya.

Menopause merupakan hal normal pada fase kehidupan seorang wanita. Namun, sebaiknya Anda waspada jika menopause datang terlalu dini. Pasalnya, menopause dini bisa disebabkan oleh beberapa faktor dan kondisi medis tertentu. Menopause dini terjadi jika wanita berusia di bawah 40 tahun sudah berhenti menstruasi. Gejalanya hampir serupa dengan menopause normal, seperti menstruasi yang tidak teratur, menstruasi yang lebih banyak ataupun sedikit dibanding biasanya, dan merasakan sensasi panas seketika yang menyebar ke tubuh bagian atas atau hot flush.

Menopause dini tidak bisa diobati atau dicegah dengan pengobatan atau perawatan tertentu. Kendati demikian, ada beberapa cara mengatasi gejala yang mungkin timbul. Berikut beberapa penanganan medis untuk meringankan gejala menopause dini:

Terapi hormon
Terapi hormon atau terapi estrogen merupakan cara paling efektif untuk mengontrol gejala menopause dini, seperti hot flush atau rasa panas dan kering pada vagina. Terapi hormon ini tersedia dalam berbagai bentuk termasuk pil, patch, semprotan transdermal, gel dan krim, serta sediaan untuk penggunaan intravaginal. Penggunaan terapi ini sebaiknya dengan dosis terendah, karena dapat meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, hingga kanker payudara.

Pil KB
Kontrasepsi oral merupakan bentuk lain terapi hormon yang bisa digunakan untuk mengatasi gejala menopause.

Obat antidepresan
Golongan obat selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) bisa membantu meringankan gejala hot flush pada menopause dini.

Baca Juga: Penyebab Menopause Dini

Gel, krim dan pelumas vagina non-hormonal
Pelumas ini dapat membantu mencegah kekeringan pada vagina di masa menopause.

Teknologi reproduksi bantuan
Wanita dengan menopause dini akan menghadapi masalah infertilitas atau sulit punya momongan. Namun demikian, kehamilan tetap bisa diusahakan melalui cara lain, yakni dengan donor sel telur.

Menopause dini dapat meningkatkan risiko osteoporosis pada wanita. Hal ini dikarenakan kadar estrogen yang rendah menyebabkan rendahnya kepadatan tulang. Namun ini bisa diimbangi dengan mengonsumsi asupan atau suplemen kalsium dan vitamin D, serta rutin berolahraga.

Wanita sebaiknya proaktif menyikapi menopause yang dialami, sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan. Periksakan diri ke dokter jika Anda merasa tengah dalam proses menuju menopause dini.

Penyebab Menopause Dini Penyebab Menopause Dini

Penyebab Menopause Dini – Berikut ini merupakan artikel yang membahas tentang penyebab terjadinya menopause dini yang sudah dirangkum dari sumber terpercaya.

Menopause merupakan hal normal pada fase kehidupan seorang wanita. Namun, sebaiknya Anda waspada jika menopause datang terlalu dini. Pasalnya, menopause dini bisa disebabkan oleh beberapa faktor dan kondisi medis tertentu. Yuk, kenali gejalanya dan ketahui cara mengatasinya di sini.

Menopause dini terjadi jika wanita berusia di bawah 40 tahun sudah berhenti menstruasi. Gejalanya hampir serupa dengan menopause normal, seperti menstruasi yang tidak teratur, menstruasi yang lebih banyak ataupun sedikit dibanding biasanya, dan merasakan sensasi panas seketika yang menyebar ke tubuh bagian atas atau hot flush.

Beberapa gejala lainnya adalah vagina kering, sulit mengendalikan buang air kecil atau gangguan kandung kemih, dan kulit, mulut atau mata menjadi lebih kering. Pada sebagian wanita, menopause juga mengakibatkan gangguan emosi seperti mood yang buruk, merasa tidak tenang, depresi ringan, sulit tidur hingga berkurangnya gairah seksual. Namun, menoupause dini sebaiknya dipastikan oleh dokter. Terkadang, dilakukan sebuah tes untuk menilai fungsi indung telur.
Beragam Penyebab dan Faktor Risiko Menopause Dini

Menopause dini dapat disebabkan beberapa hal berikut ini :

Kegagalan ovarium secara prematur
Pada kondisi ini, ovarium tidak lagi berfungsi secara normal saat usia seorang wanita belum mencapai 40 tahun. Wanita dengan kegagalan ovarium prematur masih bisa menstruasi

Genetik
Peneliti meyakini usia menopause seorang wanita terkait dengan genetik. Umumnya masa menopause seorang wanita tak jauh berbeda dengan ibunya. Jika si ibu mengalami menopause dini, maka anak perempuannya berisiko lebih tinggi mengalami hal yang sama.

Terapi radiasi dan kemoterapi
Pengobatan kanker atau penyakit lain yang menggunakan kemoterapi atau terapi radiasi di sekitar panggul dapat menyebabkan menopause dini. Hal ini disebabkan terganggunya ovarium untuk berfungsi normal.

Tindakan bedah
Operasi yang dilakukan untuk mengangkat ovarium karena berbagai alasan dapat menyebabkan menopause dini.

Baca Juga: Mencuci Rambut saat Sedang Menstruasi

Obat-obatan dan penyakit lainnya
Menopause dini juga dapat disebabkan oleh efek samping obat-obatan, penyakit kronis, tumor pada kelenjar hipofisis (pituitari) dan hipotalamus, serta gangguan psikis. Selain itu, penyakit HIV/AIDS, penyakit autoimun seperti rheumatoid arthritis, kelainan kromosom seperti sindrom Turner, serta sindrom kelelahan kronis juga dapat menyebabkan menopause dini.

Kebiasaan merokok
Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang dapat memengaruhi terjadinya menopause. Beberapa penelitian mengungkap bahwa wanita yang merokok cenderung mengalami menopause lebih cepat dibandingkan wanita yang tidak merokok.

Indeks Massa Tubuh
Hormon estrogen banyak disimpan di dalam jaringan lemak tubuh. Wanita yang terlalu kurus memiliki lemak tubuh yang sedikit. Akibatnya, hormon estrogen yang tersimpan berjumlah lebih sedikit, dan ini akan memengaruhi fungsi indung telur serta sistem reproduksi.

Mencuci Rambut saat Sedang Menstruasi Mencuci Rambut saat Sedang Menstruasi

Mencuci Rambut saat Sedang Menstruasi – Kabar tentang dilarangnya mencuci rambut sering kali terdengar, kabar ini banyak kali dipercayai oleh kaum wanita. Tapi apakah kabar ini benar atau hanya mitos?

Keramas saat sedang haid tentu tidak berbahaya dan tidak mempengaruhi jumlah darah haid yang keluar. Jumlah darah haid maupun siklus haid dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron. Saat haid, kedua hormon ini juga akan mempengaruhi produksi kelenjar minyak di kulit sehingga kulit akan terasa lebih berminyak, termasuk kulit kepala. Jumlah minyak yang berlebih tentu dapat menyebabkan bertumpuknya kotoran di pori-pori. Maka tidak heran jika saat sedang haid biasanya akan muncul jerawat di kulit atau rambut terasa lebih lepek. Justru saat sedang haid disarankan untuk tetap menjaga kebersihan tubuh, oleh karena itu keramas saat sedang haid sangat boleh dilakukan.

Ada beberapa keadaan yang dapat membuat jumlah darah haid menjadi lebih sedikit, di antaranya :

1. Stres

Baik stres fisik maupun stres psikis dapat menghambat hormon yang berperan dalam proses ovulasi. Hal inilah yang menyebabkan stres dapat mengganggu haid baik itu membuat siklus menjadi tidak teratur ataupun jumlahnya menjadi sedikit.

2. Usia

Saat seorang wanita mendekati usia menopause (sekitar usia 40-an), biasanya jumlah darah haid akan menjadi sedikit.

3. Berat badan

Penurunan berat badan dapat mempengaruhi haid karena jumlah lemak dalam tubuh berperan dalam pembentukan hormon reproduksi.
Konsumsi obat-obatan seperti ibuprofen, obat pengencer darah, antidepresi, antiepilepsi, dll.

4. Kehamilan

Saat awal kehamilan bisa saja terdapat bercak darah yang merupakan darah akibat proses penempelan hasil pembuahan ke dinding rahim. Bercak darah ini sering disalahartikan sebagai haid namun dalam jumlah sedikit.

Baca Juga: Resiko Wanita Ketika Hamil Di Usia Muda

 

5. Menyusui

Hormon yang memproduksi ASI dapat mempengaruhi hormon reproduksi.

6. Alat kontrasepsi

Penggunaan KB hormonal seperti pil ataupun suntikan dapat mempengaruhi jumlah darah haid.
Selain faktor-faktor di atas, gangguan tiroid dan PCOS (policystyc ovarium syndrome) juga dapat membuat darah haid menjadi lebih sedikit. Untuk mengenal PCOS lebih jauh berikut ini saya lampirkan artikel Mengenal PCOS untuk menambah wawasan Anda.